Senin, 28 Mei 2012

Kisah Kakek Nikahi Perempuan Belia

Kenalan hanya Empat Hari, Benih Cinta di Depan Toko 


Empat hari bukan waktu panjang. Apalagi, untuk sebuah hubungan yang berujung pada pernikahan.

Kamis 16 Februari lalu, Bella Landita Dewi, 18 tahun, resmi menjadi istri Haji Buhari, seorang pengusaha yang berusia 75 tahun. Pernikahan keduanya berlangsung meriah di Masjid Almarkaz, dengan mahar satu setel emas 15 gram, uang tunai Rp100 juta, dan beras 500 kilogram.


Keduanya memang terpaut usia yang terlampau jauh. Bahkan, Bella Landita tak lebih tua dari anak paling bungsu Buhari. "Anak Haji Buhari ada tujuh orang. Semuanya sudah menikah, kecuali anak bungsu yang umurnya sekitar 20 tahun," ujar Andi Azis, salah satu kerabat dekat Buhari.

Pesta Adat Gantarangkeke yang Kental dengan Nuansa Islam

PESTA adat di gantarangkeke, Bantaeng, digelar, Minggu 17 Juli. Ribuan warga tumpah ruah. Gendang ditabuh, Kecapi didendangkan, tari-tarian dipertunjukkan. Dan tak kalah seru: pertarungan silat tradisional bernama "A’manca."

Konon, di masa kerajaan sebelum masuknya Islam, masyarakat di Gantarangkeke rutin menggelar pesta adat bernama passaungang tauwa. Dalam ritual yang dilakukan setiap tahun ini, manusia diadu, dan dibuat berkelahi di dalam sebuah arena. Perkelahiannya bebas, bahkan dibolehkan menggunakan badik. Akibatnya, tak sedikit petarung passaungang tauwa yang cedera, bahkan tewas.

Nyanyian Mulia

Aku mati sebagai mineral dan menjelma sebagai tumbuhan

Mati sebagai tumbuhan dan lahir kembali sebagai binatang

Aku mati sebagai binatang dan kini manusia

Kenapa aku harus takut?

Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku

Sekali lagi! Aku masih harus mati sebagai manusia dan lahir di alam para malaikat

Aku masih harus mati lagi, karena kecuali Tuhan, tidak ada sesuatu yang kekal abadi

Setelah kelahiranku sebagai malaikat

Aku masih akan menjelma lagi dalam bentuk yang tak kupahami

Ah, biarkan diriku lenyap, memasuki kekosongan, kesenyapan

Karena hanya dalam kesenyapan itu terdengan nyanyian mulia

Kepada-Nya semua akan kembali



Jalaludin Muhamad Rumi

Sabtu, 26 Mei 2012

Baca-baca

“Mantra paling ampuh itu ternyata adalah Do’a”


Tidak ada rahasia untuk sukses, atau apapun konteksnya. Jodoh, kekayaan, jabatan, dan lain-lain. Tidak ada mantranya. Sekiranya anda menganggap, mantra sukses itu adalah sebuah doa yang makbul dan ampuh, saya menganggapnya sebagai sebuah ungkapan suggesti, ritual wajib yang mendorong alam bawah sadar anda untuk tergerak berusaha, dan merealisasikan keinginan itu. Konkretnya, do’a bukanlah mantra. Di mata saya, dia adalah penyempurna sebuah usaha.

Saya akhirnya tertarik untuk menuliskan ini, setelah bergulat dengan ingatan-ingatan beberapa tahun silam.
Ya, dunia ini nyata. Semuanya selalu didasarkan oleh logika, dan hukum kausalitas itu berlaku. Meskipun anda mungkin masih tetap kukuh, rahasia itu pasti ada! Pasti ada mantranya. Ada sesuatu, mungkin itu menyangkut alam gaib, jin, “baca-baca,” yang membuat anda bisa mendapatkan perempuan yang anda sukai, harta yang melimpah, atau kekuatan yang sakti, kebal dan tak terkalahkan.

Senin, 26 Desember 2011

Mumammadiyah Bantaeng Gelar Pengajian

Jamaah Sedang Mengikuti Pengajian
Bantaeng (26/12). Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bantaeng kembali menyelenggarakan Pengajian Rutin bersama dengan Ortom, anggota dan warga Muhammadiyah dan Aisyiyah lainnya yang kali ini diselenggarakan di Mesjid Nurul Huda Kelurahan Ereng Ereng Kecamatan Tompobulu, Minggu (25/12).

Pengajian rutin ini sebelumnya diselenggarakan di Pondok Pesantren Ahlu Suffah Kelurahan Karatuang, kemudian dilanjutkan oleh Pimpinan Cabang Bissappu Barat di Panaikang, Dan Pimpinan Cabang Tompobulu Selatan di Desa Rappoa dan saat ini diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Tompobulu Utara di Mesjid Nurul Huda Kelurahan Ereng Ereng.

Turut hadir dalam pengajian rutin ini, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantaeng Syamsul Suli, SE, MM, didampingi para Pimpinan Daerah Muhammadiyah lainnya, Pimpinan dan anggota Aisyiyah, Ketua Majelis Hikmah Muhammadiyah M. Anas Hasan, SH, para pimpinan Cabang, Pimpinan Ranting, para Ketua Ortom, para Ketua Lembaga sayap Muhammadiyah Se Kabupaten Bantaeng dan tampak pula hadir guru – guru SD Muhammadiyah se Kab. Bantaeng.

Dalam sambutannya, Ketua PD. Muhammadiyah Bantaeng Syamsul Suli, SE, MM yang juga menjabat sebagai Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat Kab.Bantaeng menyatakan bahwa kegiatan pengajian rutin ini akan selalu dilaksanakan dengan mengambil tema tema yang sentral dan aktual, agar warga Muhammadiyah selalu mendapatkan pencerahan.

Dengan pengajian rutin ini diharapkan pula akan selalu menciptakan kebersamaan dan persamaan persepsi untuk mengembangkan organisasi persyarikatan Muhammadiyah, agar dapat menciptakan warga Muhammadiyah yang cinta damai dan selalu dalam kaidah kaidah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW khususnya dalam kehidupan sehari hari.

Pembawa hikmah pengajian, Syaharuddin S.Ag,M.Pdi yang juga selaku Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah Bantaeng mengungkapkan inti bahwa apa yang harus kita kerjakan/lakukan haruslah berdasarkan pada syariat Islam atau telah dicontohkan oleh Rasululullah Muhammad SAW. Apabila segala amal ibadah kita sudah diterima olah Allah SWT berarti itulah tujuan hidup kita. Kewajiban ummat manusia adalah amal mahruf nahi mungkar, kembali pada yang benar adalah itu wajib.

Dilaporkan oleh : Syahrul Bayan selaku Ketua LAZIS PD. Muhammadiyah Bantaeng
Dari Bantaeng.

Rabu, 23 Maret 2011

Djirong Basang Daeng Ngewa, Ahli Lontara Bahasa Makassar yang Masih Tersisa (2)

yusran/fajar
Lazimnya orang hanya mengenal satu lontara. Padahal sesuai sejarahnya, ada tiga jenis aksara lontara; lontara kuno, baru, dan bilang-bilang. Setiap lontara punya kegunaan masing-masing. Seperti apa?
    Daeng Ngewa menjelaskan naskah-naskah kerajaan yang ditulis dengan aksara lontara kuno mungkin sudah tak tersisa. Meskipun lahir di Sulsel, namun tidak dilestarikan. "Semua naskah kerajaan yang ditulis dengan aksara lontara kuno itu ada di Belanda," katanya.
    Belanda memang banyak berkontribusi atas perkembangan kesusastraan dan lontara. Bahkan, perubahan dan pembakuan lontara kuno menjadi baru terwujud atas upaya seorang peneliti dan ahli bahasa asal Belanda, Dr Benjamin Frederick Matthes. "Matthes itu yang memperbaharui tulisan lontara hingga hurufnya lebih sederhana dan mudah ditulis dan dibaca," ujarnya.
Beberapa huruf lontara kuno  yang bentuknya mirip coretan yang tak berpola, dimodifikasi, dan disederhanakan, sehingga bentuknya lebih rapi dan memiliki pola. Jelasnya, bentuk huruf lontara baru, mengikuti pola anyaman daun lontar.
    Karena itu, Daeng Ngewa mempelajari bahasa Belanda karena lontara, khususnya lontara kuno, justru banyak dijelaskan dalam buku-buku berbahasa negara bekas penjajah Indonesia tersebut.
    Soal lontara bilang-bilang, Daeng Ngewa menjawab lontara jenis tersebut sudah tidak ditemukan lagi di Sulsel seperti halnya lontara kuno. Bilang-bilang dalam bahasa Makassar berarti angka atau hitungan. Disebut bilang-bilang karena bentuk huruf lontara tersebut lebih mirip angka.
    Untuk menemukan naskah-naskah kerajaan yang ditulis dengan lontara kuno maupun lontara bilang-bilang, jangan cari di Sulsel. "Semuanya lengkap di perpustakaan Leiden, Belanda," ujar Daeng Ngewa yang sudah berusia 79 tahun (bukan 89 tahun).
    Dia menceritakan kedatangan seorang peneliti dari AS, Anthony Jakes yang membawa sastra Makassar dengan huruf lontara Makassar kuno yang diambil dari perpustakaan Leiden pada  2003 silam. "Anthony ke sini mencari orang yang bisa menerjemahkan naskah itu. Dia ke Unhas, ke IKIP, tapi tidak ada yang tahu terjemahannya," ujarnya. Walhasil, oleh beberapa profesor bahasa di perguruan tinggi tersebut, Anthony diarahkan kepadanya.
    Daeng Ngewa menjelaskan raja-raja dulu telah menjual naskah-naskah kerajaan ke pemerintah Belanda. Penjualan naskah tersebut ada untungnya karena terjaga. "Pemerintah Belanda mengeluarkan dana yang banyak untuk menjaga naskah tua itu supaya tahan lama. Kertas-kertas kuno itu tahan sampai sekarang, karena pemerintah belanda punya obat pengawet yang bagus. Pemerintah Belanda punya surat-surat bukti pembelian. Jadi, Indonesia tidak bisa mengambilnya kembali," ujarnya.

Jika naskah tersebut disimpan di Sulsel, naskahnya mungkin sudah banyak yang lapuk. Itu soal naskah. Belum lagi para ahli lontara yang banyak menulis dan menjelaskan aksara tersebut agar bisa bertahan. Dia menduga sudah tidak ada lagi ahli lontara seangkatannya." Sejumlah nama besar, seperti Ince Husain Dg Parani, Nurung Daeng Tombong, Daeng Maggau, Abd Rahim Daeng Mone, yang dikenal ahli dalam lontara Makassar telah wafat. "Mereka itu guru saya. Sepertinya tinggal saya ini yang terkakhir," akunya.
    Bahkan, guru besar linguistik Prof Sugira Wahid, Prof Kadir Menyambeang yang juga pernah belajar padanya ini juga telah berpulang. "Banyak yang menulis buku tentang lontara, tapi isinya kebanyakan mengutip," ujarnya. Guru yang pernah mengajarkan bahasa daerah Makassar kepada orang-orang Amerika pada 1978-1990 ini mengaku, sering menemukan buku, maupun tulisan-tulisan tentang lontara, yang menjiplak karya-karyanya.
    Daeng Ngewa menghabiskan banyak waktunya dengan mempelajari berbagai hal tentang sastra. Selepas PGSLP (SMA), ia melanjutkan pendidikannya Universitas Hasanuddin dan memperolah predikat Sarjana Muda Bahasa Indonesia, tahun 1963. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau IKIP.(*)

Djirong Basang Daeng Ngewa, Ahli Lontara Bahasa Makassar yang Masih Tersisa (1)

Orang Makassar, termasuk beruntung. Sejumlah budaya, tradisi, dan rentetan cerita-cerita masa lalu, masih terekam hingga saat ini. Ia diselamatkan, dan diceritakan oleh sebuah manuskrip, yang disebut lontara. Namun, ironisnya, aksara ini semakin terlupakan. Ini  karena semakin langkanya ahli lontara Makassar, seperi Djirong Basang.

Nama Djirong Basang, sepertinya sudah tak terpisahkan lagi dari Lontara Makassar dan Sejumlah Karya Kesusastraan Bahasa Daerah.
    Saya mengunjungi Budayawan berusia 89 tahun ini di kediamannya, Perumahan Puri Taman Sari C6 Nomor 14, 4 Maret lalu. "Kalau diajak bicara, suaranya harus keras. Kalau kecil, biasa tidak didengar," kata Hj Asisah, 70, isteri Djirong Basang. Asisah menuturkan, sejak tiga bulan lalu, Daeng Ngewa, sebutan akrab Djirong, sudah mulai lamban berbicara, melangkah, dan mulai pikun. "Kalau sholat, bapak pakai kursi," tambahnya.
    Saat mewawancarai Daeng Ngewa, saya selalu hati-hati untuk menanyakan sesuatu yang membuat dia mengingat dan berpikir keras. Setiap kali ia lupa dan  tidak tahu menjawab pertanyaan, semampu mungkin ia berdiri, dan melangkah gontai menuju lemari bukunya. Ia tampak bersemangat memperlihatkan buku-buku yang pernah ia tulis.
    Daeng Ngewa, telah menghasilkan banyak karya tulis tentang lontarak, dan sastra Makassar. Di antaranya, Pappilajarang Basa Mangkasara (Singarak) jilid satu sampai enam, untuk murid SD, dan Pappilajarang Basa Mangkasara jilid satu sampai tiga, untuk siswa SMP. "Itu buku, saya tulis waktu tahun-tahun 70. Sampai sekarang masih dipakai murid SD dan SMP," ujarnya, lirih.
    Buku lain, Fonologi Bahasa Makassar, Morfologi Bahasa Makassar, Sintaksis Bahasa Makassar, Fonemik Bahasa Makassar, serta Struktur Bahasa Makassar, menjadi referensi banyak peneliti bahasa daerah. Djirong juga menulis buku tentang Riwayat Syekh Yusuf dan Kisah I Makkutaknang dengan Mannuntungi. Buku lain, Taman Sastra Makassar, dan Kamus Makassar Indonesia.
    Selain itu, ada lagi Buku Pedoman Ejaan Bahasa Makassar, dan sejumlah karya yang ia tulis bersama penulis-penulis sastra daerah lain.
    Budayawan yang disebut-sebut juga punya andil dalam perubahan nama Ujung Pandang menjadi Makassar ini, mulai belajar tentang lontara sejak kelas satu SD, di tahun 1940. "Dulu, waktu masih kelas satu SD, semua mata pelajaran itu diajarkan dengan bahasa daerah. Bukan satu tambah satu, tapi se're tamba se're. Murid juga harus menggunakan tulisan lontara. Nanti naik kelas dua, baru diajarkan tulisan latin," tuturnya.
    Ia menyayangkan, pelajaran bahasa daerah yang diajarkan kepada murid SD dan siswa SMP, semakin berkurang. Ia melihat, Bahasa daerah, yang menjadi bagian dari budaya lokal, semakin dilupakan, dan tergerus sejumlah bahasa asing yang masuk dan mendominasi, di setiap mata pelajaran dalam berbagai tingkat pendidikan sekolah. Bahasa daerah sepertinya tidak menarik buat siswa-siswi. Bahasa daerah bahkan hanya diajarkan sekali dalam seminggu.
    Padahal, lanjut Daeng Ngewa, lontara makassar dikaji dan diteliti sejumlah peneliti asing, karena dinilai telah mempertahankan sejumlah tradisi makassar-bugis.    
    Tak heran, Daeng Ngewa, justru banyak mendapat referensi dari literatur-literatur Belanda, seperti Makassaarsche Chrestomatic, yang ditulis Dr Benjamin Frederick Matthes. Buku tersebut, oleh Daeng Ngewa, banyak membahas perubahan tulisan lontara kuno, menjadi lontara baru.
    Ia bahkan mendapatkan manuskrip lontara kuno yang didapat dari seorang peneliti asal Australia. "Itu tulisan lontara kuno, tidak ada yang tahu baca. Nanti itu peneliti ke rumah, saya yang bantu bacakan," ujarnya.
    Bahkan, Prof Anderson, Seorang ilmuan bahasa asal Universitas Cornell, ikut belajar bahasa makassar pada Daeng Ngewa, sampai tiga tahun.
    Ada juga Barbara Grimes, peneliti bahasa dari australia yang meminta bantuan Daeng Ngewa, mendesain aksara lontara untuk diprogramkan dalam tulisan di komputer.
Daeng Ngewa bahkan pernah mendapat penghargaan Celebes Award tahun 2006. Sebuah penghargaan yang diberikan kepada enam budayawan pada tahun 2006.
    Ia juga pernah mengajarkan bahasa daerah Makassar kepada orang-orang amerika di tahun 1978-1990. Daeng Ngewa mulai menulis buku saat menjadi guru di SGB (sekolah guru A), tahun 1954. "Tapi, jauh sebelumnya, saya sudah buat banyak catata-catatan," tambah dia.
    Ngewa memang paham betul tentang lontara dan sastra Makassar. Sepanjang hidupnya, ia habiskan dengan mempelajari banyak hal tentang sastra. Selepas PGSLP (Setingkat SMU, red), ia melanjutkan pendidkannya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, atau IKIP (Sekarang UNM), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra. Di perguruan tinggi tersebut, dia menjadi angkatan pertama, dengan nomor urut 5, dan memperoleh predikat Sarjana Muda Bahasa Indonesia, tahun 1963.
    Tak hanya itu, Ngewa bahkan menguasai bahasa Belanda. Ia melihat, Lontara banyak dijelaskan dalam buku-buku berbahasa negara bekas penjajah Indonesia tersebut.
    Banyak profesor ahli bahasa yang pernah menjadi muridnya, di antaranya, mantan Rektor IKIP, Prof Sugira Wahid dan Prof Parawansah.(*)

Mahasiswa Perusak Pos Polisi Dituntut 6 Bulan

Makassar -- Lima Mahasiswa yang terlibat dalam perusakan pos polisi di dekat Fly Over, Desember 2010 lalu, dituntut enam bulan penjara. Dalam pembacaan tuntutannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Adnan Hamzah, menyebutkan, berdasarkan pengakuan saksi-saksi, terdakwa terbukti melakukan penghasutan, dan ikut menjadi pelaku perusak polisi tersebut.
    Mereka juga telah melakukan tindakan penganiayaan terhadap aparat, yang dilakukan secara bersama-sama, serta merusak empat mobil polisi. "Terdakwa dituntut enam bulan penjara, dikurangi waktu selama mereka menjadi tersangka, berdasarkan pasal 170 KUHP," ujar Adnan.
    Lima Mahasiswa tersebut, ditangkap Polisi, dan menjadi tersangka di akhir bulan Desember 2010. Mereka antara lain, Hasanuddin Rahim dan Muhammad Habibi Musdin dari Universitas Muslim Indonesia (UMI), Ahmad Syahban Munawir dari Universitas Islam Negeri (UIN), Syamsul Asri dan Fuad Bachmid dari Universitas 45 Makassar. Mereka melakukan aksi demonstrasi, yang berujung bentrok pada hari HAM, 10 Oktober 2010 lalu, di Fly Over. Aksi dilakukan untuk meminta tanggungjawab atas penembakan beberapa rekannya sehari sebelumnya.
    Menurut  penasehat hukum, Wilianto Azis, tuntutan tersebut sudah cukup bijak. Hanya saja, ada beberapa fakta yang belum diuraikan. "Nanti akan kami uraikan apa-apa saja yang menjadi pembelaan," ujarnya.
    Hakim, Wayan Karya Masih memberikan kesempatan penasehat Hukum, untuk mengajukan pledoi (pembelaan, red), 30 Maret mendatang.(sbi)
   

Senin, 28 Februari 2011

Mengunjungi Bayi Penderita Jantung Bawaan

Assyifa, tergolek lemas di pembaringannya, Jalan Pettarani 6, 28 Februari lalu. Bayi 17 bulan ini hanya bisa menggeliat, dan membalikkan badannya, ke kiri dan kanan. Padahal, bayi seusia dia seharusnya sudah merangkak, bahkan berjalan.
    Putri bungsu pasangan Misbahuddin, 53, dan Nurliah, 37 ini, bahkan tak pernah nyenyak jika tidur. "Kalau malam, dia hanya tertidur sekitar sepuluh menit, terus terbangun lagi," ujar Nurliah. Padahal, bayi harusnya tidur antara 16 sampai 20 jam sehari. Melihat anaknya yang menderita, Nurliah hanya bisa berusaha semampunya, membawa anaknya ke rumah sakit berulang kali, dan memeriksakan sakit anaknya dari dokter yang satu ke dokter yang lain.   
    Sedang Misbahuddin, berupaya semampunya menjadi pengojek, itupun jika kebetulan ada motor yang bisa dipinjam. Keluarga ini tinggal di sebuah ruangan seluas sekira tiga kali enam meter, di Masjid Assyifa, Tamalanrea. Misbahuddin, menjadi pamong di masjid itu, dengan imbalan Rp400.000 setiap bulan.
    Saat lahir pada 11 September 2009 lalu, berat Assyifa hanya 2.3kg. Berbeda dengan bayi normal, yang rata-rata 4kg. Saat ini, beratnya hanya 4,5kg. Sakit yang diderita Assyifah cukup langka. Menurut catatan Dr Burhanuddin, spesialis anak yang memeriksanya, terdapat kebocoran seluas 5 milimeter pada dinding yang membatasi atrium kanan dan atrium kiri di dalam jantungnya.
    Atrium kanan, berfungsi menerima darah yang kehabisan oksigen dan mengandung karbondioksida (darah kotor, red). Kemudian, darah tersebut dialirkan ke paru-paru, yang menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida. Selanjutnya, darah bersih dialirkan melalui atrium kiri.
    Karena terjadi kebocoran pada dinding pembatas atrium kanan dan kiri, akhirnya darah bersih dan kotor bercampur. Asyifah pun tak berdaya. Tubuhnya kurus, perutnya membuncit, dan kulitnya tampak kekuning-kuningan. "Kalau menangis, kulitnya warna biru," sahut Misbahuddin. Penyakit tersebut bernama Atrial Septal Defek (ASD).
    Penyakit itu diketahui saat Asyifah berumur tiga bulan. Suatu waktu, Nurliah dan Misbah begitu terkejut, karena Asyifah yang terlahir dengan sehat, tiba-tiba nafasnya sesak, dan dehidrasi. "Dia malah dimasukkan dalam ruangan picu jantung," jelas Misbah. Dokter yang memeriksanya, lalu menyarankan untuk operasi, karena itu satu-satunya jalan.
    Asyifah juga adalah satu contoh bayi penderita Hipotiroid bawaan. Hipotiroid adalah penyakit yang dibawa sejak lahir, dan disebabkan kekurangan hormon tiroid yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.
    Asyifah dilahirkan dengan usia kandungan yang belum cukup sembilan bulan. Ia lahir dengan sejumlah organ tubuh yang belum sempurna. Lapisan lemak di bawah kulitnya belum terbentuk, dan pencernaan masih belum bekerja maksimal, sehingga ia mudah demam, diare, dan mencret.
    Nurliah mengaku, anaknya sudah diopname sampai empat kali. "Saya selalu bawa Asyifah ke Rumah Sakit Wahidin. Kalau diopname, biasanya sampai lima hari. Pernah juga 11 hari," ujar Nurliah. Namun, tak membawa hasil. Tetap saja, operasi yang memakan biaya tinggi, menjadi jalan terakhir.
    Misbahuddin dan Nurliah sebenarnya mendapat bantuan Jamkesmas. Namun, Syifa yang baru lahir, belum sempat mendapat kartu pelayanan kesehatan gratis tersebut, karena periode pengurusan Jamkesmas, menurut Nurliah, sampai lima tahun.
    Misbahuddin dan Nurliah, adalah potret masyarakat kecil, yang belum sepenuhnya merasakan fasilitas kesehatan gratis yang dijanjikan pemerintah.(zainuddinhasbi@yahoo.co.id)

Selasa, 22 Februari 2011

Mengidentifikasi Aktifitas Korupsi Lewat Kacamata Media

Seperti yang selalu diungkap oleh aparat penegak hukum, kalangan media, dan sejumlah diskursus tentang kejahatan-kejahatan para petinggi Negara kita, korupsi selalu diibaratkan sebagai sebuah tumbuhan menyeramkan, yang akarnya telah berserabut, menjalar dan menggerayangi setiap sudut di lingkungan sekitar ia tumbuh. Tentu saja sulit untuk dimusnahkan. Kalaupun batangnya ditebang, maka akarnya yang di mana-mana akan melahirkan tunas-tunas baru, yang pastinya menyeramkan.
Memberantas korupsi, ibarat menepuk nyamuk-nyamuk yang berseliweran di tengah gelap malam. Kita tak tahu kalau ia ada di mana-mana. Hanya bisa dirasa-rasa lewat pendengaran, kalau nyamuk itu sedang melintas di depan wajah kita. Maka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun diibaratkan cecak yang bertugas menangkap nyamuk yang kebetulan terjangkau. Lalu bagaimana dengan nyamuk yang tak terjangkau? Kita pun akan menebak-nebak, bahwa nyamuk tentu bebas terbang ke sana kemari. Cukup dengan mematuhi aturan yang dibuat oleh pembesar-pembesar nyamuk itu, yakni jangan melintas/hinggap di daerah jangkauan cecak.
Seperti yang selalu tertulis dalam sejumlah artikel, pemberantasan korupsi bukan hanya tugas mereka yang berwenang memberantasnya. Tapi juga tugas kita, selaku masyarakat di Negara ini. Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum yang dikaji secara yuridis, dan hanya melibatkan aparat-aparat penegak hukum.
Kita harus akui, korupsi seakan telah berkembang menjadi sebuah “budaya” yang terkesan biasa-biasa saja di kalangan para pejabat. Maka untuk memberantasnya, kita tak hanya memaksimalkan fungsi hukum, tapi dibutuhkan sebuah gerakan yang bertumpu pada kesadaran moral, untuk memberantas kejahatan yang terkesan “biasa” itu. Saya mengatakan kejahatan yang terkesan biasa, karena melihat beberapa realita seperti misalnya: seorang petinggi instansi bingung dengan sisa anggaran yang masih banyak, sementara masa jabatannya berada di akhir tahun, dan akan tutup anggaran. Dana itu cukup banyak, dan sayang, jika tak dicairkan. Maka, disusunlah skenario pengucuran dana “siluman”, dengan sebuah aturan yang sama dengan aturan yang dibuat sang nyamuk: dilarang mendekati cecak. Dalam hal ini, cukup dengan menjaga agar tindakan tersebut tidak masuk dalam kategori korupsi, sesuai yang didefinisikan oleh undang-undang. Seperti yang tertera dalam UU No.20 tahun 2001, yang termasuk kategori korupsi antara lain: merugikan negara, suap menyuap, penggelapan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Bagaimana caranya? Saya kira para pelaku, yang sudah lihai “bermain” punya banyak cara.
Dari hal tersebut, kita dapat menyimpulkan, hukum masih belum menjadi alat ampuh untuk memberantas korupsi. Semakin kita memaksimalkan fungsi hukum, maka semakin tinggi siasat para koruptor untuk melenceng.
Menurut hemat penulis, pemberantasan korupsi membutuhkan pendekatan yang tak hanya menakar aspek yuridis semata. Konkretnya, standar untuk “mengkoruptorkan” seorang pejabat, juga harus ditinjau dengan pendekatan nilai-nilai moralitas dan standar etika yang normatif. Artinya, seorang bisa sadar telah melakukan perbuatan korupsi, bukan karena melanggar undang-undang, tapi berangkat dari kesadaran mendalam diri pribadi, bahwa apa yang ia lakukan itu tidak benar, menurut standar etik yang ia pelajari pada saat sekolah, di pengajian dan sebagainya.
Media, meskipun diakui telah banyak berkontribusi dalam pemberantasan korupsi, namun peranannya masih lebih kepada pemberian efek jera kepada koruptor, dengan sejumlah pemberitaan yang dibeberkan. Media sebenarnya punya potensi yang lebih besar dari itu. Kelebihan media, adalah mampu mengungkap sejumlah aktifitas pejabat yang berpotensi korupsi, yang masih belum dapat dijangkau oleh hukum. Karena media tak hanya mengikuti standar hukum, tapi standar normatif etik yang disepakati orang banyak. Jika aparat penegak hukum kewalahan untuk mengungkap kasus korupsi, karena kasus tersebut masih belum dapat dijerat dengan menggunakan referensi hukum, media mampu mengungkapnya dengan menggunakan analisa normatif yang berlaku, dengan menyajikan penilaian, persepsi, analisis, dan komentar sejumlah pakar dan masyarakat.
Media juga berfungsi untuk melempar wacana, dan memberikan ruang diskusi kepada masyarakat, untuk memperbincangkan beberapa kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan-kebijakan yang berpotensi korupsi. Dalam wilayah ini, media tentu sangat berperan. Jika diibaratkan dengan cecak yang kewalahan menangkap nyamuk, media diibaratkan obat nyamuk yang asapnya menyebar ke segala penjuru ruangan, membasmi nyamuk-nyamuk yang berseliweran. Karena itu, satu pelajaran buat KPK, dan beberapa aparat penegak hukum untuk menyadari betapa pentingnya peranan media dalam memberantas korupsi.
(hasbi zainuddin)

Kisruh di Tubuh PMII Cabang Makassar; Pengurus Baru Tidak Representatif

Makassar -- Konferensi cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Makassar, pada Oktober 2010 lalu, menimbulkan kisruh di tubuh organisasi penganut paham Ahlussunnah Waljamaah ini. Pasalnya, ketua umum yang terpilih, Balend, Mahasiswa Sospol Universitas 45, dinilai tidak representatif. Tidak representatifnya Balend, membuat sejumlah pengurusnya juga ikut dipermasalahkan.
Ini disampaikan Agus Hade, 22 Februari lalu. Agus, datang bersama sejumlah perwakilan dari pengurus jajaran komisariat PMII Cabang Makassar, antara lain, PMII Komisariat UMM, UNM, STIMIK Handayani, UIN Alauddin, UMI, dan Poltek Negeri Ujungpandang. Komisariat-komisariat tersebut, adalah enam dari tujuh komisariat PMII Cabang Makassar. Keenam komisariat itu, bersama-sama menyatakan tidak sepakat atas hasil konferensi cabang.
Agus menjelaskan, pada saat konferensi cabang dilaksanakan, terjadi perdebatan panjang, yang membuat perwakilan tiga komisariat, antara lain UIN UMI, dan UNM, walkout (keluar dari forum, red). "Mereka, yang walkout adalah peserta penuh, dan otomatis keputusan forum tidak akan sah tanpa kehadiran tiga perwakilan tersebut," ujar Agus.
Persoalan lain, yakni penjaringan pengurus, yang tidak sesuai aturan. "Menurut aturan, pengurus itu harus perwakilan dari setiap komisariat. Sedangkan pengurus barunya, hanya kalangan tertentu saja," tambah Agus.
Agus, bersama perwakilan komisariat-komisariat tersebut, mensinyalir, terjadi intervensi dalam konferensi cabang. Untuk itu, mereka menuntut agar diadakan konferensi luar biasa.
Di Kota Makassar, ada tiga cabang PMII. Cabang tersebut antara lain, cabang makassar
cabang metro makassar, cabang makassar raya.sbi-ulf)

Senin, 21 Februari 2011

Pemuda Harus Menjadi Sumber Inspirasi

Jamaluddin M Syamsir
Makassar -- Dapat dipastikan, demokrasi selalu menjadi solusi sekaligus jalan terakhir untuk mengakhiri setiap pergolakan sosial, serta karut marut pemerintahan di berbagai negara. Elit monarki yang melahirkan banyak diktator, tumbang satu persatu.
    Begitupun sistem politik yang justru melahirkan keuntungan untuk kalangan tertentu. Namun, sistem demokrasi saja belumlah cukup. Ia butuh penyelenggara yang mampu menjalankannya.
    Ini dipetik dari Talkshow "Pemuda dan Demokrasi," yang diselenggarakan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulsel. Talkshow digelar di gedung BaKTI, jalan Dr Sutomo, 21 Februari.
    Talkshow yang mengupas peran pemuda dalam mengawal proses transisi demokrasi ini, dihadiri tiga pembicara. Mereka, antara lain, Pemerhati Budaya, Alwi Rahman, Akademisi, Idrus Taba, dan Komisioner KNPI, Irfan AB. Talkshow yang disiarkan langsung radio Mercurius Fm ini, dipandu seorang fungsionaris KPID Sulsel, Andi Mangara.
    Menurut Irfan, demokrasi harus dimaknai sebagai kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan yang dimaksud, bukan kebebasan yang justru menindas kalangan minoritas. "Pemerintahan yang demokratis, itu harus memperjuangkan hak-hak etnik, sekte-sekte agama, termasuk yang minoritas. Makanya, saya tidak sepakat dengan upaya pembubaran Ahmadiyah secara paksa," ujar dia.
    Lalu, apa yang salah dengan demokrasi, sehingga negara masih diwarnai kemiskinan, dan kekacauan? "Kesalahannya bukan pada Demokrasi. Kesalahannya ada pada penyelenggara negara ini," jawabnya. Irfan mengutip ungkapan penguasa legenda perang china, Guan Yu. Bahwa, sebuah sistem tak pernah punya kesalahan. "Sekalipun yang jadi pemimpin adalah seekor kucing, yang penting kucingnya masih mau menangkap tikus, itu lebih baik," lanjut dia.
    Irfan menilai, nilai-nilai demokrasi yang diberlakukan ternyata belum sepenuhnya terwujud, karena kurangnya kontribusi kaum muda. Untuk itu, pemuda harus selalu punya ide, dan wacana.
    Alwi Rahman melanjutkan, kekacauan yang terjadi di berbagai sektor Negara ini, lebih kepada kurang berfungsinya pemerintah sebagai inspirator. "Terus terang, Indonesia ini berada dalam situasi yang tunggang langgang. Kita ini serba terbirit-birit. Terbirit-birit di wilayah politik, agama, kampus, dan pemerintahan. Tak pernah ada sosok pemimpin seperti Nelson Mandela, yang menjadi sumber inspirasi rakyatnya," terang Alwi.
    Nelson Mandela, lanjut dia, mampu memaafkan ribuan orang yang pernah menindasnya. Sedangkan, pemimpin kita, tak pernah sudi untuk memaafkan.
    Alwi mengimbau kaum muda, terlebih kepada KNPI, untuk bisa menjadi sumber inspirasi buat masyarakat.
    Menurut Idrus Taba, menjalankan kekuasaan yang demokratis itu ibarat menunggangi seekor macan. Ia punya sisi yang mempesona, sekaligus sisi mencemaskan. Untuk itu, peran pemuda dalam pengawalan demokrasi amatlah penting.
    Talkshow yang diselingi penampilan musik jazz tersebut, berlangsung santai, dan jenaka. Andi Mangara, pemandu acara mampu menghidupkan suasana, dengan sentilan-sentilan yang menghibur. Puluhan peserta, dari berbagai kalangan, seperti mahasiswa, pengurus lsm dan ormas, hadir. Talksho juga dihadiri ketua umum Komisi Penyiaran Indonesia Sulsel, Rusdin Tompo.
    Ketua Umum KNPI Sulsel, Jamaluddin Syamsir menyatakan, Talkshow tersebut dilaksanakan rutin setiap bulan. "Ke depan, diskusi-diskusi seperti ini akan kita lakukan di kampus-kampus," ujar mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gowa Raya ini.
    Jamaluddin menambahkan, Talkshow juga dilakukan, untuk mengurangi jumlah demonstrasi anarkis yang kerap terjadi belakangan ini. "Talkshow kita lakukan, karena melihat kurangnya ruang-ruang diskusi, kajian, yang dilakukan masing-masing organisasi kemahasiswaan. Kita berharap, dengan diskusi ini, tidak ada lagi mahasiswa yang suka demonstrasi anarkis," tandasnya.(sbi)

Mendorong Minat Sains Siswa lewat Lomba

illustrasi
Makassar -- Ada gejala yang dialami sejumlah siswa siswi di Indonesia, termasuk orang tua dan guru. Mereka alergi terhadap setiap pelajaran yang berbau sains. Ini dikatakan Prof Dr Ing Wardiman Djoyonegoro, saat menghadiri olimpiade sains kuark antar SD se-Indonesia, di SD Islam Athira, Bukit Baruga Antang, 19 Februari.
    Sadar dengan itu, Menteri pendidikan di tahun 1993-1998 ini, mengaku terus mendorong setiap upaya peningkatan kemampuan setiap siswa di bidang sains. "Dengan adanya perlombaan seperti ini, saya berharap, pelajaran sains, itu minimal bisa diminati. Kalau sudah diminati, pasti akan dipelajari, untuk kemudian dikuasai. Melalui olimpiade ini, kita ingin kurangi alergi terhadap sains," ujar dia.
    Wardiman menambahkan, Pertumbuhan sebuah bangsa bisa terjadi karena sumber daya manusia yang berpengetahuan. Semua negara maju, didorong oleh kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). "Sains kan, bagian dar Iptek. Karena itu, setiap usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan teknologi, harus terus didukung," ujarnya. Wardiman juga berharap, kedepan, jumlah peserta olimpiade sains harus ditingkatkan.
    Wardiman ditemui FAJAR, saat usai mengikuti seremonial pembukaan olimpiade. Ia bersama fisikawan Indonesia, Prof Yohannes Surya, Direktur Sekolah Islam Athirah Asnawi Makkatutu, Staf Ahli bidang pemberdayaan sosial kemasyarakatan pemprov sulsel, Arifin Daud, Direktur Bank ICBC NISP, Rama P Kusuma Putra, General Manager Pertamina Sulsel, Ferdy Novianto, tengah meninjau pelaksanaan olimpiade tersebut.
    Olimpiade Sains Kuark yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun, telah memasuki tahun kelima. Olimpiade ini diselenggarakan PT Kuark, sebuah lembaga swasta nasional, yg bergerak di bidang penyelenggaraan program-program edukasi. Olimpiade didukung oleh PT Pertamina, dan Bank ICBC NISP.
    Menurut Nila Martini, panitia lokal olimpiade, PT Pertamina telah menyumbangkan sebanyak 1000 buku sains, sedangkan ICBC NISP menyumbang 3000 buku, kepada Kuark. Buku-buku tersebut, didistribusikan kepada lima SD di Makassar, yang tergolong miskin, antara lain, SD Maccini Sombala, Maccini Sombala I, Balang Baru, Balang Baru I, dan Maccini Baru I.
    Peserta Olimpiade Kuark tahun ini sebanyak 82.000, dari seluruh wilayah Indonesia. Sejumlah pakar dan profesional, ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, seperti Prof Wardiman, dan Yohannes Surya, yang menjadi supervisi lomba.
    Menurut Lily, ketua penyelenggara di Makassar, olimpiade dilaksanakan secara serentak di setiap wilayah Indonesia. Kemarin, adalah tahap penyisihan. "Di Makassar, ada 2.800 siswa dari berbagai SD se-Kota Makassar, yang ikut babak penyisihan," ujarnya. Sekolah Islam Athirah, menjadi tuan rumah Olimpiade di Makassar. Di Sulsel, lanjut lily, olimpiade diselenggarakan di tujuh kabupaten di antaranya, Soroako, Sidrap, Sengkang, Pangkep, Maros, Gowa, dan Makassar.
    Ia menjelaskan, olimpiade dilaksanakan dengan pola yang santai, tidak membuat siswa tegang. Pantauan FAJAR, para peserta terlihat asyik menjawab soal pertanyaan tertulis, yang disajikan bersama kisi-kisi jawaban. Beberapa buku pelajaran, juga dilampirkan. Mereka, kata Lily, berlomba sambil belajar.
    Lily mengatakan, untuk menghilangkan rasa alergi siswa terhadap sains, Kuark telah menerbitkan sejumlah buku pelajaran tentang sains, berbentuk komik. "Buku-buku fisika itu, isinya tak harus penjelasan yang kaku. Karena itu, supaya tidak bosan, kita menyajikan buku yang isinya menunjukkan contoh-contoh eksperimen, dalam bentuk komik, yang bermaksud menumbuhkan kesadaran kritis mereka. Kita ingin, setelah membaca buku sains tersebut, muncul rasa penasaran mereka, dan kesadaran kritis untuk terus bertanya, mengapa, mengapa, dan mengapa," ujat Lily. Kesadaran kritis oromatis akan menumbuhkan minat siswa terhadap sains.
    Peserta olimpiade dibagi ke dalam tiga level. Level satu, untuk untuk siswa kelas satu dan dua SD. Level dua, untuk siswa kelas tiga dan empat, dan level tiga, untuk kelas lima dan enam.
    Setelah babak penyisihan, semifinal akan berlangsung pada 16 April mendatang. Pelaksanaannya masih di daerah masing-masing."Tahap final, akan dilaksanakan di Jakarta, pada 25 Juni," tutup Lily.(sbi)

Jumat, 18 Februari 2011

Kecam Penyerangan Terhadap Ahmadiyah

nurhadi/fajar
Makassar -- Aksi penyerangan sekelompok massa terhadap Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), 6 Februari lalu, di Padeglang, Banten, membuat sejumlah tokoh agama di Makassar meradang.
    Mereka, bergabung di Aula Pascasarjana kampus I UIN Alauddin, dan merumuskan enam poin pernyataan sikap.
Dalam salah satu poinnya, mereka mengecam aksi yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah tersebut. Kata "mengecam,"
 oleh Prof Dr Qasim Mathar, moderator forum tersebut, digunakan karena tak ada kata lain lagi yang lebih tepat tapi santun, untuk menggambarkan kekesalannya.
    "Saya kesal dengan aksi yang jauh dari nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan itu," ujarnya di depan puluhan tokoh agama, yang ikut merumuskan poin pernyataan sikap tersebut.
    Qasim menilai, Keputusan bersama Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam negeri yang melarang Jamaat Ahmadiyah menyebarkan ajarannya, telah memberi peluang penafsiran oleh warga, untuk melakukan kekerasan terhadap Jamaat Ahmadiyah. "Mereka (Jamaat Ahmadiyah, red) cuma ngumpul-ngumpul di masjid, kok tiba-tiba diserang," lanjutnya.
    Keputusan bersama, yang bernomor KEP-033/A/JA/6/2008 tahun 2008 tersebut, diperdebatkan peserta forum, terutama pasal 3. Pasal tersebut berisi tentang pemberian sanksi bagi Ahmadiyah, jika tidak mengindahkan peringatan pemerintah, untuk menghentikan segala bentuk kegiatan penyebarannya.
    Beberapa peserta forum, seperti Wim Poli, bahkan mengusulkan untuk mencabut keputusan tersebut, karena menurutnya, tidak relevan dengan undang-undang. Bahkan, menurut dia, bertentangan dengan Hak Asasi Manusia.
    Forum perumusan pernyataan sikap itu dihadiri sejumlah utusan ormas serta organisasi keagamaan
, di antaranya, P Joni Payuk, dari Justice Peace Integration of Creation (JPIC-CICM)
,
M Nawir, dari Jaringan Rakyat Miskin Kota Makassar (JRMK). Pdt. Libert Simatupang, dari Gereja Kristen Sulsel (GKSS),
Albert, dari LSM Gardan, Didi Darsono, dari Gereja Kristen Indonesia (GKI), Karim dari LSM Lapar, dan sejumlah utusan organisasi lainnya. Juga hadir budayawan, Ishak Ngeljaratan, akademisi, Waspada Sainting, Dr Mustari Mustafa, Dr Nurhidayat Said, dan sejumlah tokoh lainnya.(sbi)

Poin Pernyataan Sikap:
1. Mengecam sekeras-kerasnya penyerangan terhadap Jamaah Ahmadiyah, sebagai perbuatan biadab yang jauh sama sekali dari nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

2. Mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas kasus tersebut dan menangkap dan menghukum pelaku penyerangan tersebut.

3. Mendesak pemerintah agar menarik dan mencabut Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri, nomor KEP-033/A/JA/6/2008, nomor 199 tahun 2008, tentang peringatan dan perintah kepada penganut, anggota, pengurus jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan warga masyarakat - dan semua keputusan dan peraturan yang serupa - yang selama ini telah memberi peluang penafsiran oleh warga untuk melakukan kekerasan agama terhadap warga/kelompok warga lainnya, khususnya JAI.

4. Menyatakan penyesalan yang sebenar-benarnya yang mengganggu kepercayaan kami sebagai warga negara terhadap Menteri Agama, Kepolisian, dan lembaga keagamaan yang tidak bersikap/mengayomi, bahkan kehilangan kemampuan untuk melindungi kelompok-kelompok keagamaan yang ada di tengah masyarakat dari tindak kekerasan agama.

5. Mengajak dengan tulus kepada segenap warga masyarakat untuk melandaskan dan menjadikan pancasila dan undang-undang dasar 1945 sebagai tolak ukur dari sikap dan perbuatan kita dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

6. Mendorong terwujudnya dialog yang intensif dan sehat di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda penafsiran keagamaan.

Dakwah Bukan Hanya di Mimbar

Makassar -- Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah, KH Syuhada Bahri menempatkan dakwah pada posisi yang mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dakwah menjadi gerakan sosial yang paling teguh dan eksis mewujudkan masyarakat sejahtera.
    Gerakan lain yang juga berupaya mewujudkan masyarakat sejahtera banyak yang tumbang. Gerakan sosialisme yang radikal bercita-cita menghapuskan ketertindasan justru tumbang di beberapa negara, bahkan di negaranya sendiri, Uni Soviet.
    "Untuk memaksimalkan fungsi dakwah, diperlukan strategi yang kuat," papar Syuhada, saat menyampaikan tausiyah umum, di gedung LAN Antang, 22 Januari kemarin.
    Syuhada mengutip ungkapan Ibnu Qayyim, bahwa kejahatan yang terstruktur dan terorganisasi pasti dapat dikalahkan gerakan dakwah yang juga terstruktur dan terorganisir dengan baik. Gerakan dakwah masa kini harus melalui media yang stategis.
    "Jangan hanya dakwah di mimbar. Kita perlu melahirkan politisi yang da'i, pebisnis yang da'i, dokter yang da'i, dan insinyur yang da'i," imbaunya.
    Bahkan, untuk lebih memaksimalkan fungsi dakwah, yakni amar ma'ruf nahi mungkar, diperlukan sinergitas antara ulama dan umara (pemerintah, red). "Ulama bertugas melakukan amar ma'ruf (menyuruh untuk kebaikan, red), dan umara bertugas dalam nahi mungkar (mencegah kejahatan)," imbuhnya.
    Tausyiah Umum yang dilaksanakan 22 Januari kemarin, bagian dari rangkaian pelantikan dan rapat kerja Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) Sulsel periode 2010-2014.
    Syuhada tak hanya memberi tausiyah. Ia juga melantik pengurus baru DDI Sulsel antara lain, Prof Asaad Maidin sebagai ketua umum, dan Sjaiful Kasim, wakil ketua I.
    Mantan ketua KPID Sulsel, Aswar Hasan, juga jadi pengurus DDI Sulsel menjabat wakil II. Selain itu, menempati posisi sekretaris, Purnama Irianto Asadih. Prof Alimin Maidin dan Irwan Hasbi masing masing menjabat wakil sekretaris I dan II.

Alam Bawah Sadar Pengaruhi Kesuksesan

Makassar -- Alam bawah sadar yang lebih maksimal fungsinya cukup memengaruhi kesuksesan seseorang. Fungsinya ibarat perbendaharaan yang menyimpan banyak referensi untuk menentukan sebuah keputusan. Inspirator Sukses Indonesia, Ongky Hojanto, mengemukakan, orang yang tidak sukses adalah orang yang di dalam pikiran bawah sadarnya tersimpan begitu banyak suggesti kecemasan, rasa takut, khawatir, dan ragu-ragu yang justru menjadi limiting belief.
Menurut Ongky, limiting belief merupakan sesuatu yang membatasi mimpi-mimpi, bayangan, bahkan keyakinan mencapai kesuksesan. Ongky menguraikan manfaat maksimalisasi alam bawah sadar pada "Sales Magic and Unlimited Success" di lantai empat gedung Graha Pena, 22 Januari, kemarin.
Di awal materinya, Ongky memberi penjelasan tentang arti penting sebuah mindset. Dia banyak menyorot pola pendidikan orang tua terhadap anaknya yang cenderung mengacaukan mindset berpikirnya. Ongky mencontohkan, ketika seorang anak jatuh di lantai, orang tuanya langsung memukul lantai dan mengatakan, "ini lantai, nakal."
"Orang tua justru memberi sebuah kesan, bahwa bukan sang anak yang salah. Yang salah, adalah lantai. Orang tua tidak menasehati anak, untuk lebih berhati-hati ketika berjalan," ketus pria yang telah berbicara sampai ke luar negeri ini.
Akhirnya, yang terbangun di alam bawah sadar sang anak, bahwa ia tidak pernah salah. Yang salah adalah orang lain
Cara kerja pikiran, lanjut Ongky, ada dua yakni alam sadar dan alam bawah sadar. Alam sadar bertugas menerima, membandingkan, menganalisa, dan memutuskan sesuatu.
Untuk melakukan proses tersebut, alam sadar, menggunakan berbagai referensi yang diterima dari alam bawah sadar. "Mengapa anda memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu yang anda tahu benar? Itu karena tersimpan dalam alam bawah sadar anda rasa khawatir, takut, dan ragu-ragu, yang terus berulang-ulang memberikan rekomendasi kepada alam sadar, dan memengaruhi keputusan untuk tidak melakukan apa-apa," jelas trainer asal Manado ini.
Mengapa pengelolaan mindset atau alam bawah sadar begitu penting? Ongky mengatakan, alam bawah sadar tak sekadar di pikiran dan hanya memengaruhi tubuh.
Ia bahkan mampu mempengaruhi setiap tubuh di sekitarnya. Beberapa pebisnis sukses membuktikan, kesuksesannya dicapai karena selalu ia tanamkan di dalam dirinya sebuah ungkapan, "saya ingin sukses" berulang-ulang secara rutin, setiap hari.

Kamis, 16 Desember 2010

Ibrahim, Ismail, dan Hikmah Kurban

Kita pernah dibuat takjub oleh peristiwa pengurbanan Ismail, anak Ibrahim. Anak saleh dalam kisah dramatis itu menjadi contoh teladan yang cerita tentang kesabaran dankeikhlasannya senantiasa diperbincangkan di setiap waktu. Al-Qur'an menceritakan dan memuji kesabarannya, malaikat dibuat terhenyak haru dengan kesabaran sekaligus keikhlasan sang ayah, Ibrahim, ketika akan menunaikan titah Tuhan, menyambelih anaknya sendiri. Iblis pun sepertinya "dibuat ampun" dengan keteguhan hati ayah dan anak itu. Manuver-manuver godaannya lalu dipatahkan begitu saja dengan lemparan batu Ibrahim AS. Maka jadilah ritual "melontar jumrah" menjadi salah salah satu prosesi pelaksanaan ibadah haji. Konon itu dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap iblis. Cerita ini barangkali sudah sangat sering didengunkan sang khatib Idul Adha dari tahun ke tahun. Lebih jauh, Ibrahim dan Ismail bahkan menjadi simbolisasi kehidupan yang sarat dengan pengorbanan, cinta, kesabaran, dan keikhlasan.