Syahdan, tersebutlah sebuah perkampungan terpencil di jazirah Arab yang
nyaris tak tersentuh, dan jauh dari pemukiman masyarakat banyak.
Keberadaannya juga nyaris tak tersentuh syiar dan kunjungan para
muballig. Meski begitu, masyarakatnya adalah penganut Islam yang taat.
Mereka salat, mengaji, puasa, dan menjalankan ibadah sebagaimana yang
dituntunkan ajaran Agama Islam.
Namun, ada sesuatu yang ganjil dengan tradisi beribadah di kampung ini.
Hampir semua masyarakatnya memang secara rutin melakukan salat berjamaah
di masjid. Namun, ketika berangkat, semuanya membawa sebuah timba.
Masing-masing mereka memperlakukan benda itu dengan baik, memuliakannya,
dan meletakkannya di samping kanan mereka ketika salat.
Di dalam masjid, usai salat Subuh, mereka secara rutin menyimak tausiyah
seorang Syekh yang sudah sangat dituakan. Di kampung itu, Syekh
tersebut adalah satu-satunya ulama. Konon, puluhan tahun lalu, Sang
Syekh itu datang dari negeri yang jauh, membawa AlQur’an dan kitab-kitab
sunnah, menggelar halaqah, dan mencerahkan masyarakat yang sebelumnya
penganut ajaran animisme itu.